Prinsip konservatif adalah konsep umum dalam dunia akuntansi yg merujuk pada hal pengakuan beban (expense) dan kewajiban (liabilities) sesegera mungkin ketika ada ketidakpastian dalam hal itu, tetapi hanya mengakui nilai pendapatan (revenue) dan asset ketika itu benar-benar diterima. Prinsip konservatif ini juga disebut sebagai doctrine of prudence (prinsip kehati-hatian) dalam menghadapi masalah akuntansi dengan maksud untuk mengantisipasi kemungkinan kerugian di masa depan tetapi tidak keuntungan di masa depan. Kebijakan ini cenderung mengecilkan daripada melebih-lebihkan aktiva bersih dan laba bersih, dan karena itu menyebabkan perusahaan untuk lebih “bermain aman”.

Dengan demikian, ketika anda di hadapkan pada suatu masalah akuntansi dan diberi beberapa pilihan, maka ambil pilihan yg lebih membuat net income perusahaan dan nilai aset perusahaan lebih kecil, dari pada memilih hal yg sebaliknya. Ini dimaksudkan supaya dalam tahun berjalan, kita sudah punya cadangan ketika hal terburuk terjadi (sudah punya senjata rahasia).

Prinsip konservatif ini diterpakan dalam hal penilaian inventory (invetory valuation) LCM (lower cost or market) di setiap akhir bulan. misalkan ; kita punya 100 unit barang dengan nilai cost / unitnya : $100. Ternyata, di pasaran (market value) nilai barang kita ini hanya laku seharga $90. Dengan demikian, di masa depan kalau kita jual barang itu, kita akan merugi sebesar $10 per unit atau $1000 totalnya.

Nah dengan prinsip konservatif ini, kita lebih baik mencadangkan sekarang kerugian yg akan terjadi di masa mendatang itu. Dengan melakukan LCM, kita akan menjurnal :

LCMNah dari jurnal itu kita bisa lihat bahwa COGS jadi bertambah (akan membuat income kita understate).

kalau ada kekurangan dll, silakan dikoreksi karena manusia tempat salah dan khilaf.

Advertisements